Ming, 16 Jun 2024

NGAWI GELAR “TADDARUS BUDAYA” UNTUK EKSISTENSI KULTUR AGRARIS DITENGAH PRAGMATISME

PRESSIND, NGAWI | Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngawi bersama Dewan Kesenian dan Kebudayaan (DKKN) Ngawi menyelenggarakan “Taddarus Budaya” bertajuk “Gerakan Eksistensi Kultur Agraris Di Tengah Pragmatisme”.

Acara ini menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang, seperti Sastrawan Nasional, Ketua DKKN Ngawi, Tjahjono Widijanto, Aktivis Pertanian Wahyudi, dan Komite Penelitian dan Pengkajian DKKN Ngawi, Arsad Ragandhi.

Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono dalam sambutannya menyampaikan bahwa acara ini bertujuan untuk mempertemukan para pelaku seni dan petani Ngawi untuk berdiskusi dan mencari solusi dalam mengkolaborasikan budaya dan pertanian.

“Sore tadi sambil menunggu berbuka puasa, kita berdiskusi bareng pelaku seni dan petani Kabupaten Ngawi, bagaimana budaya dan pertanian bisa berkolaborasi,” ujar Ony.

Aktivis Pertanian Sri Organik Nusantara, Wahyudi, memaparkan bahwa diskusi ini fokus pada fenomena kolaborasi antara seniman atau budayawan dengan petani.

“Membahas terkait dengan gerakan eksistensi kultur garis tengah pragmatis, jadi membahas tentang fenomena bagaimana seniman atau budayawan ini bisa berkolaborasi dengan pertanian,” jelas Wahyudi.

Lebih lanjut, Wahyudi menuturkan bahwa untuk memajukan pertanian, perlu adanya kolaborasi dengan seni adat dan budaya. Hal ini dapat dilakukan melalui festival sedekah bumi, bersih desa, dan hari tani nasional.

“Tadi seniman dan budayawan sangat sepakat dengan gagasan yang disampaikan, memang harus disandingkan supaya ekonomi kerakyatan di desa itu bisa terangkat,” ungkap Wahyudi.

Wahyudi juga menambahkan bahwa konsep pertanian modern yang memisahkan antara pertanian dan budaya perlu diubah.

“Kalau ingin maju ya satukan lagi antara seni adat budaya dan pertanian itu harus bersatu untuk mengangkat seni dan mengangkat pertaniannya,” tandasnya.

Acara “Taddarus Budaya” ini diharapkan dapat menghasilkan gagasan dan solusi konkret untuk memperkuat eksistensi kultur agraris di tengah arus pragmatisme modern.

Wartawan : Fatkhul Mu'anam
Editor : Abdul Ghofar
image_pdf

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

*

*