PRESSINDO_NGAWI | Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi terus mengintensifkan program Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) kecacingan bagi anak-anak usia 1 hingga 12 tahun. Program ini telah berjalan sejak tahun 2015 dan digelar dua kali dalam setahun melalui posyandu, TK/PAUD, serta sekolah dasar.
Pengelola Program Kecacingan Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi, Ririn Noviyanti, menjelaskan langkah ini penting untuk mencegah dampak buruk kecacingan terhadap kesehatan anak.
“Pemberian obat pencegahan kecacingan dilakukan dua kali setahun dengan jarak minimal tiga bulan. Sasarannya anak usia balita hingga 12 tahun. Tujuannya agar anak-anak terbebas dari risiko kecacingan yang bisa menurunkan kesehatan, gizi, hingga kecerdasan mereka,” ungkap Ririn, Selasa 26/8.
Dinas Kesehatan mencatat capaian POPM di Jawa Timur, termasuk Ngawi, terus menunjukkan hasil positif. Bahkan, pada tahun 2025 putaran pertama, target pemberian obat tercapai 100 persen atau sebanyak 122.109 anak.
Menurut data, capaian sebelumnya juga cukup tinggi:
Tahun 2022: 99,42% (putaran 1) dan 99,78% (putaran 2)
Tahun 2023: 99,99% (putaran 1) dan 99,98% (putaran 2)
Tahun 2024: 100% di dua putaran
Kecacingan sendiri berpotensi menurunkan kualitas sumber daya manusia karena menyebabkan kehilangan gizi, karbohidrat, protein, dan darah. Jika tidak ditangani, hal ini dapat menghambat terwujudnya generasi emas Indonesia 2045.
Selain pemberian obat massal, program ini juga terintegrasi dengan kegiatan kesehatan lain seperti bulan vitamin A, pemberian makanan tambahan untuk balita, dan usaha kesehatan sekolah.
Ririn menambahkan, masyarakat juga harus berperan aktif mencegah kecacingan dengan menjaga kebersihan lingkungan, memakai alas kaki, mencuci tangan dengan sabun, hingga menghindari kontak langsung dengan kotoran hewan.
“Pencegahan bukan hanya soal obat, tapi juga kebiasaan hidup bersih. Orang tua harus peka jika menemukan anak dengan gejala kecacingan dan segera melapor ke petugas kesehatan,” tegasnya.
Dengan capaian 100 persen, Ngawi optimistis dapat menjaga kesehatan anak-anak sekaligus memperkuat daya saing sumber daya manusia di masa depan.
Wartawan: Fatkhul Mu'anam Editor: A Febri TH

