Ming, 16 Jun 2024

Dinas Perikanan dan Peternakan Ngawi Ajak Kewaspadaan Dini terhadap LSD (Lumpy Skin Disease)

TABLOID_PRESSIND, NGAWI I Munculnya penyakit baru pada hewan Lumpy Skin Disease (LSD) yang disebabkan oleh Lumpy Skin Disease Virus (LSDV) Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Ngawi membuat seruan tindakan kewaspadaan dini terhadap  LSD.

Bonadi Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten saat ditemui di ruangannya mengatakan munculnya penyakit baru dengan nama Lumpy Skin Disease (LSD) pada hewan rentan terhadap LSD (sapi dan kerbau) di Kabupaten Ngawi belum ada yang terdeteksi adanya gejala klinis LSD.

“namun diharapkan semua Medik Veteriner, Paramedik  Veteriner, pedagang ternak, maupun peternak harus meningkatkan kewaspadaan terhadap LSD karena LSD sudah ditemukan di beberapa kabupaten di Provinsi Jawa Tengah (Tegal, Kendal, Semarang),” Terangnya.

Ditempat terpisah Kepala Bidang Kesehatan Hewan Wachidah Suryandari saat diwawancara mengatakan Lumpy Skin Disease (LSD) adalah penyakit kulit infeksius yang disebabkan oleh Lumpy Skin Disease Virus (LSDV), “penyakit ini dengan tanda klinis berupa nodul berukuran 1 – 7 cm pada daerah leher, kepala, kaki, ekor dan ambing.              Pada kasus berat nodul dapat ditemukan di hampir seluruh bagian tubuh dan dapat menyebabkan kerusakan kulit permanen. Munculnya nodul biasanya diawali dengan demam hingga lebih dari 40oC. Tanda  klinis  lainnya yaitu lemah, penurunan nafsu makan, leleran pada hidung dan mata, pembengkakan limfonodus subscapula dan prefemoralis, serta dapat terjadi    oedema pada kaki,” terangnya.

Lebih lanjut Ia mengatakan Hewan yang dapat tertular adalah sapi dan kerbau, dengan tingkat mortalitas (angka kematian) mencapai 12%, dan morbiditas (angka kesakitan/penularan) mencapai 35 – 40%. “LSD juga dapat menyebabkan abortus, penurunan produksi susu pada sapi perah, infertilitas dan demam berkepanjangan, belum ada laporan terkait kejadian LSD pada ruminansia lain seperti kambing dan domba, dan tidak termasuk penyakit zoonosis.”ujarnya.

tanda-tanda sapi kena lsd pada daerah leher dan kepala,

“Diagnosis banding LSD adalah gigitan serangga, demodecosis, rinderpest, ringworm, dermatophilosis, urtikaria, infestasi hypoderma bovis, bovine papular stomatitis, cutaneous tuberculosis, dan onchocercosis.” Pungkasnya.

Penularan LSD dapat terjadi dengan cara:

  1. Secara langsung melalui kontak dengan lesi kulit, virus LSD diekskresikan melalui darah, leleran hidung dan mata, air liur, semen dan susu serta intrauterine;
  2. Secara tidak langsung  penularan  terjadi  melalui  peralatan  dan  perlengkapan  yang terkontaminasi virus LSD seperti pakaian kandang, peralatan kandang dan jarum suntik;
  3. Penularan secara mekanis terjadi melalui vektor yaitu nyamuk, lalat dan caplak.

Tindakan kewaspadaan dini yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut :

  1. Melakukan profiling (pedagang, penjual dan pengepul ternak sapi/kerbau  serta pasar hewan) yang memperdagangkan sapi/kerbau dari wilayah tertular LSD untuk selanjutnya dibuat pemetaan  dan   mitigasi risiko lalu lintas ternak sapi/kerbau dan produknya;
  2. Melakukan pengamatan gejala klinis pada saat pelaksanaan vaksinasi PMK sebagai bentuk deteksi dini LSD;
  3. Melaporkan setiap penemuan kasus dengan tanda klinis LSD melalui iSIKHNAS selanjutnya berkoordinasi dengan Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur;
  4. Menerapkan biosecurity kandang dan lingkungan dengan tindakan desinfeksi lingkungan dengan desinfektan serta melakukan kontrol vector nyamuk, lalat dan caplak;
  5. Meningkatkan kegiatan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE), kepada pemilik, penggembala, pedagang, penjual dan pengepul ternak sapi/kerbau dengan populasi ternak tinggi tentang bahaya dan kerugian akibat LSD; penerapan biosecurity; kontrol vektor; pelarangan membeli sapi/kerbau dari wilayah yang sedang ada kasus

Wartawan: Abdul Ghofar

image_pdf

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

*

*