PRESSINDO_NGAWI | Ketua Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Ngawi, Abdul Latif Sasmito Aji Wibowo, menyoroti kondisi politik nasional yang dinilai masih jauh dari ideal. Ia menekankan bahwa generasi muda saat ini terus dibebani wacana tentang “generasi emas” sebagai bonus demografi, namun implementasinya masih minim menyentuh kepentingan nyata kaum muda.
“Sejak dulu kita terus dijejali dengan istilah generasi emas. Bagi kami sebagai anak muda, itu jangan hanya menjadi wacana yang diulang-ulang. Bonus demografi seharusnya mendorong kami untuk benar-benar dilibatkan dalam proses pembangunan, termasuk di sektor politik,” tegas Abdul Latif, Selasa (26/8/2025).
Ketua PC PMII Ngawi , lanjutnya, sebagai organisasi berbasis keislaman yang memiliki basis massa luas di kampus dan akar rumput, memiliki peran strategis dalam mendorong pendidikan politik serta mengawal proses demokrasi. Menurutnya, kader PMII siap mengambil bagian dalam pengawasan partisipatif pemilu maupun pilkada agar jalannya demokrasi lebih sehat dan berintegritas.
Abdul Latif juga menyinggung soal maraknya politik uang dan tingginya biaya politik di Indonesia. Ia sepakat dengan pandangan Akademisi Nunik Haryani bahwa besarnya ongkos politik kerap menjadi pemicu praktik korupsi. “Kalau biaya politik lebih besar dibanding pendapatan resmi, maka kemungkinan terjadinya korupsi sangat besar. Misalnya, gaji anggota DPRD Rp15 juta per bulan, jika dikalikan lima tahun hanya Rp900 juta. Padahal ongkos politik bisa jauh lebih tinggi dari itu. Di sinilah potensi penyalahgunaan jabatan rawan terjadi,” pungkasnya.
Wartawan: Abdul Ghofar Editor: A Febri TH

