PRESSINDO_NGAWI | Jaringan Gusdurian Ngawi kembali menggelar kegiatan rutin Forum 17an dengan tema “Mengawal Warisan Gus Dur Dalam Supremasi Sipil”. Acara ini berlangsung pada Jumat, 28 Maret 2025, di Cafedangan Mediva, Grudo, Ngawi. Kegiatan ini menghadirkan Syahirul Alim, Direktur Alif Institusi, sebagai pemantik diskusi.
Koordinator Gusdurian Ngawi, Ikhwan Nawawi awani, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk merawat dan memperjuangkan pemikiran serta warisan intelektual Gus Dur dalam membangun Indonesia yang lebih bahagia. Menurutnya, nilai-nilai yang diwariskan Gus Dur, terutama terkait supremasi sipil dan reformasi TNI, harus terus dijaga dan dikawal.
Dalam pemaparan diskusi, Syahirul Alim menyoroti bahwa dengan disahkannya Undang-Undang (UU) TNI yang baru, perjuangan Gus Dur dalam menata hubungan sipil-militer seolah tidak lagi bermakna. Ia menilai bahwa kekuatan sipil semakin terpinggirkan dalam dinamika politik nasional.
“Kita sebagai Sahabat² Gusdurian ndak boleh lupa lho bahwa menguatkan supremasi sipil ini adalah ikhtiar pemikiran Gus Dur yang kemudian diterjemahkan sebagai salah satu semangat Reformasi pada waktu itu.” Bebernya.

Sementara itu, Abdul Ghofar, Direktur presisiindonesia.com, menekankan pentingnya kewaspadaan masyarakat akar rumput terhadap perubahan kebijakan yang dapat berdampak luas. “Dengan disahkannya UU TNI ini, kita tidak boleh lengah terhadap urusan nasional. Masyarakat sipil harus mampu membaca perubahan yang terjadi di bawah dan memastikan bahwa kebijakan, baik di tingkat kabupaten maupun desa, tetap berpihak pada kepentingan rakyat,” ujarnya.
Kegiatan ini berlangsung dengan antusiasme tinggi dari peserta yang hadir. Diskusi interaktif semakin memperkaya pemahaman tentang peran sipil dalam demokrasi dan pentingnya menjaga warisan perjuangan Gus Dur dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Wartawan: Margono Editor: Abdul Ghofar