PRESSINDO_NGAWI | Suasana hangat penuh kebersamaan terasa begitu kental di Desa Campurasri saat masyarakat menggelar tradisi bersih desa yang hingga kini tetap lestari dan dijaga bersama. Tradisi turun-temurun ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan wujud rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kesehatan, keselamatan, dan rezeki yang masih diberikan dalam kehidupan sehari-hari.
Sejak 20 Mei 2026, warga mulai disibukkan dengan berbagai persiapan dan rangkaian kegiatan spiritual maupun budaya. Mulai dari istighosah bersama, besik makam para leluhur, doa di punden hingga sendang yang diyakini memiliki nilai sejarah dan menjadi bagian penting perjalanan Desa Campurasri dari masa ke masa.
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi sarana doa dan penghormatan kepada para pendahulu desa, tetapi juga menjadi momen mempererat tali silaturahmi antarwarga. Kebersamaan tampak begitu hidup ketika masyarakat bergotong royong mempersiapkan seluruh rangkaian acara dengan penuh semangat dan kekeluargaan.
Puncak tradisi bersih desa digelar pada Senin Pahing, 25 Mei 2026, melalui pagelaran budaya wayang tengul dan langen beksan yang sukses menyedot perhatian warga. Anak-anak, remaja hingga orang tua tampak larut menikmati pertunjukan seni tradisional Jawa yang menghadirkan suasana meriah sekaligus penuh makna budaya.
Kepala Desa Campurasri, Sunarto atau yang akrab disapa Mbah Narto, menegaskan bahwa tradisi bersih desa merupakan warisan luhur para leluhur yang harus terus dijaga keberlangsungannya. Menurutnya, budaya lokal tidak boleh kalah oleh pengaruh budaya luar yang dapat mengikis jati diri bangsa.
“Tradisi bersih desa adalah peninggalan para leluhur yang wajib kita jaga bersama. Jangan sampai hilang atau tergeser budaya asing yang justru merusak nilai budaya bangsa,” ujar Mbah Narto.
Ia juga menitipkan harapan besar kepada generasi muda agar ikut mencintai dan melestarikan tradisi desa. Sebab, keberlangsungan budaya lokal ke depan sangat bergantung pada kepedulian anak-anak muda dalam menjaga identitas dan warisan leluhur mereka sendiri.
Antusiasme masyarakat yang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan menjadi bukti bahwa tradisi bersih desa masih memiliki tempat istimewa di hati warga Campurasri. Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, tradisi ini tetap menjadi perekat kebersamaan sekaligus pengingat akan pentingnya menjaga akar budaya dan nilai gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat.
Wartawan: Margono Editor: A Febri TH

